Artikel

Panggilan

Diterbitkan pada 22 Mei 2011
Ditulis oleh Administrator

Pengantar
Minggu Panggilan tahun ini tepat pada tanggal 15 Mei 2011, bertepatan pula dengan kegiatan Doa Rosario. Setiap tahun kegiatan ini dilaksanakan dalam Kring maupun kategorial lingkungan Paroki St. Theresia, namun hanya berhenti sampai pada kegiatan itu sendiri. Belum ada realisasi tanggapan ”Panggilan” menjadi Biarawan maupun biarawati. Mengapa demikian ? Marilah kita bertanya pada diri kita masing-masing, mengapa di antara keluarga kita belum ada yang terpanggil untuk menjadi Biarawan maupun Biarawati ? Ladang Sekolah Katolik yang sudah berusia setengah abad lebih belum menampakkan hasil, demikian pula Gereja Katolik yang usianya kurang lebih sama, belum juga dapat mencetak seorang pun Biarawan maupun Biarawati. Semoga dengan dibangunnya Gereja dan Pastoran yang baru akan terbangun pula panggilan di Paroki kita.

Selibat

Selibat berasal dari kata Latin “Caecibatus” yang berarti “hidup tidak menikah”.  Gereja Katolik Roma menuntut para imamnya untuk tidak menikah seumur hidup dan taat pada kemurnian pribadi dalam pikiran maupun dalam perbuatan.  Selibat bukan suatu pokok iman Katolik, melainkan tuntutan hukum Gereja yang mengatur cita-cita tentang hidup klerus Katolik.

a. Hidup Selibat itu Alkitabiah

Di dalam Perjanjian baru tidak ada kewajiban bagi  para klerus harus hidup selibat. Meski begitu, juga tidak ada pernyataan bahwa hidup selibat itu tidak alkitabiah.  Yesus berkata, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Mat 19:12)

Ucapan Yesus ini dilontarkan dalam konteks maraknya perceraian di kalangan Yahudi saat itu. Melihat situasi itu, para murid saling berkata kalau begitu lebih baik tidak kawin saja supaya tidak timbul masalah.

Yesus menanggapi komentar para murid ini dengan mengatakan bahwa ada kebenaran dalam ucapan "lebih baik jangan kawin" itu. Menurut Yesus, ada 3 macam orang yang tidak dapat kawin.  Dalam naskah Yunani, Yesus menggunakan tiga kali kata "kebiri" [William Barclay menggunakan istilah "orang Kasim"]. Ada orang yang lahir dalam keadaan "kebiri". Itu adalah orang yang mempunyai kekurangan pada tubuhnya sehingga tidak dapat kawin. Kedua, orang yang dikebiri oleh orang lain, misalnya pelayan-pelayan di istana raja pada masa lalu kadang harus dikebiri supaya mereka tidak menggoda gundik-gundik raja. Kedua golongan ini disebutkan dalam buku ajaran para rabbi. Kemudian Yesus menambahkan golongan ketiga yaitu orang yang atas kemauannya sendiri tidak menikah, supaya mereka bebas dari segala gangguan dalam pekerjaannya bagi Kerajaan Allah. Secara harfiah, golongan ketiga ini adalah orang yang dengan sengaja dan sukarela mengebiri dirinya sendiri, namun hal ini tidak dapat diterapkan mentah-mentah. Salah satu tragedi dalam gereja perdana adalah kasus Origins. Ketika masih muda, dia mengebiri dirinya sendiri walaupun kemudian ia sadar bahwa ia keliru.

Ayat lain yang menyinggung hidup selibat adalah tulisan Paulus dalam surat 1 Korintus 7: "Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku . . .

Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi.

Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.

Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” (1Kor 7:7-8; 32-35).

Paulus menuliskan hal ini untuk menanggapi kehidupan jemaat di Korintus yang mulai meremehkan kehidupan perkawinan. Setelah dibaptis, jemaat di sana menganggap bahwa hidup baru itu mirip dengan asketisme total. Segala sesuatu yang merupakan kenikmatan duniawi harus ditanggalkan. Termasuk di dalamnya kehidupan perkawinan.

Paulus menentang hal ini. Meskipun berpendapat bahwa hidup selibat itu baik, tetapi orang-orang yang sudah menikah tidak boleh mengabaikan kehidupan perkawinan mereka. Menurut Paulus, setiap orang "menerima dari Allah karunianya yang khas." Soal keputusan apakah seseorang akan hidup selibat atau menikah itu harus sesuai dengan "karunianya yang khas itu."

Dari pernyataan Yesus dapat disimpulkan bahwa memang dimungkinkan adanya orang yang hidup selibat; Dan itu alkitabiah. Sedangkan dari Paulus kita mendapatkan kebenaran bahwa hidup selibat itu merupakan karunia atau anugerah dari Allah.

b.  Selibat di Antara Klerus

Dalam Perjanjian Baru terdapat 2 pandangan tentang perkawinan klerus: Di satu pihak, beberapa rasul menikah (Mat 8:14; 1 Kor 9:5); Paulus pun menganjurkan para penilik jemaat untuk beristri (1 Tim 3:2).  Di lain pihak, hidup selibat ditekankan bagi mereka yang dipanggil untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Kerajaan Allah. Dengan tidak menikah maka orang tersebut dapat mengabdikan kehidupannya lebih total kepada Allah karena tidak terikat pada banyak tugas keluarga. Dengan demikian, dia dan dapat mempersiapkan diri dengan lebih bebas dalam menyongsong kedatangan Kristus (1 Kor 7: 26-35).

Tiga puluh tujuh Paus pada abad-abad pertama menikah dan berumahtangga.  Paus Hormisdas (514-523)  misalnya, adalah ayah dari Paus Silverius (536-537).  Paus terakhir yang beristri ialah Paus Adrianus II (867-872).  Sesudah itu masih ada Paus yang berkeluarga sebelum ditahbiskan menjadi imam, lalu sesudahnya hidup berselibat.  Kardinal Rodrigo Borgia (1431-1503) mempunyai 4 orang anak yang lahir sebelum ia ditahbiskan menjadi imam dan pada tahun 1492 ia terpilih menjadi Paus dengan nama Alexander VI.

Sejak abad ke-4, uskup-uskup di Yunani, Mesir dan Eropa Barat kebanyakan tidak menikah atau meninggalkan istri mereka sesudah ditahbiskan.  Tetapi pada zaman itu, para imam dan diakon di seluruh Gereja tetap boleh beristri dan tidak ada hukum yang melarang seorang imam menikah.

Di bagian Timur, sejak abad ke-6 dan ke-7 hukum melarang uskup hidup bersama istrinya.  Jika sudah menikah sebelum ditahbiskan, ia harus menitipkan istrinya dengan persetujuannya ke suatu biara yang jauh.  Tetapi, para imam dan diakon tetap berkeluarga sampai kini.  Selibat imamat dalam Gereja bagian Barat baru mulai menjadi tuntutan kanonik sesudah berbagai sinode partikular menekankan selibat.

Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita lihat hasil belajar saya tentang kepemimpinan gereja menurut ajaran Katolik. Pada masa pelayanan-Nya Yesus mengumpulkan dua belas murid yang disebut rasul (bdk. Luk 6:12-16). Yesus mendidik dan memberi kuasa kepada mereka untuk menggembalakan umat (bdk. Yoh 21:15-17), mengajarkan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus ( Mat. 28:20), merayakan Ekaristi (Luk. 22:19), mengusir roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Mat. 10:1).

Demikianlah Yesus memberi kuasa kepada para rasul untuk menjadi pemimpin umat-Nya. Kepemimpinan mereka tergabung dalam dewan para rasul yang diketuai oleh st. Petrus. Pengganti para Rasul itu adalah para Uskup, yaitu mereka yang menerima Sakramen Tahbisan. Dalam hierarki gereja Katolik dikenal ada jabatan Paus, Uskup dan para Imam. Mereka dikhususkan untuk mewartakan injil, menggembalakan umat beriman dan merayakan ibadat ilahi [kecuali imam, masih ada diakon yang ditahbiskan bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan].

Semua pemegang jabatan imamat ini harus menjalani sakramen tahbisan yaitu penumpangan tangan sebagai tanda berkat, pencurahan Roh dan penyerahan kuasa, disertai doa.

Orang yang menerima sakramen tahbisan sebagai imam ini harus mengucapkan tiga kaul. Tujuannya agar orang yang tertahbis dapat memberikan diri seutuhnya kepada Kristus dan umat-Nya. Tiga kaul itu adalah:

 

Gereja Katolik meyakini bahwa hidup selibat dapat membuat seseorang dapat melakukan pekerjaan Allah dengan lebih baik, tentu saja itu adalah hal yang alkitabiah. Kalau gereja Katolik menetapkan syarat bahwa orang yang akan menerima sakramen tahbisan harus mengucapkan kaul, yang salah satunya hidup selibat, itu adalah keputusan yang ada dasar Alkitabnya.

Aturan ini hanya berlaku bagi orang yang mengajukan diri sebagai imam secara sukarela. Gereja Katolik tidak pernah memaksa seseorang untuk hidup selibat. Kalau ada orang yang tidak bersedia menuruti aturan ini, maka dia boleh mengundurkan diri kapan saja. Setiap institusi memiliki aturannya sendiri-sendiri. Kalau Anda masuk dinas ketentaraan, maka Anda wajib potong rambut sangat pendek. Anda tidak mungkin menolak kewajiban ini dengan dalih melanggar HAM untuk berambut gondrong. Kalau Anda tidak mau berambut cepak ya jangan jadi tentara [kecuali jika ada UU Wajib Militer]. Tidak ada yang memaksa Anda untuk menjadi tentara. Demikian juga kalau Anda tidak mau hidup selibat, ya jangan menjadi imam Katolik, sebab dalam gereja Katolik ada ketentuan hidup selibat. Tujuan dari ketentuan ini supaya para imam dapat melayani lebih baik. Dan ini Alkitabiah.

Hidup dalam Seminari St. Petrus Canisius

It starts from nothing and ends with something (Awal, bukan ketiadaan tapi ketidakberadaan)

a.    Medan Pratama (MP), Penggojlogan Jiwa dan Mental

Bulan Juni 2006, aku menjejakkan kakiku di SMA Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan. Aku tidak pernah mengira, bahwa nantinya aku akan menjadi seseorang yang berarti bagi Seminari, mewakili lomba debat bahasa Inggris, bahkan menjadi Ketua Badan Perwakilan Medan. Saat itu adalah awal yang benar-benar awal. Aku hanya memiliki kemampuan yang sedang-sedang saja. Aku tak pernah memiliki kemampuan yang lebih dari teman-temanku waktu di SMP Katolik Santo Mikail, bahkan waktu di Seminari (khususnya MP), aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya pengaruh yang kuat kepada siapapun juga.

Angkatan 95 mungkin yang paling sedikit penerimaan siswa, yaitu 57 siswa masuk Kelas Persiapan Pertama yang dibagi tiga ruang: KPP.1, KPP.2 dan KPP.3. Dapat dibayangkan bahwa ruang yang begitu besar hanya dihuni 19 siswa, sehingga jarak antar bangku berjauhan. Setiap siswa disediakan sebuah meja besar yang muat untuk menaruh buku-buku pelajaran sehingga tidak perlu tas sekolah, karena semua buku pelajaran sudah siap di meja belajar. Aku masuk KPP.2 adalah kelas pertamaku di Seminari Menengah yang dihuni hanya 18 siswa, karena seorang siswa mengundurkan diri. Kelas ini begitu kompetitif. Lihat saja personilnya, Yusup Widiarko (Seorang yang memiliki karakter sangat berambisi ), Harry Kristanto (seorang yang ambisius), Danar (seorang yang idealis). Ketiga orang ini menurutku adalah yang berpengaruh dalam kelas. Mereka menumbuhkan jiwa kompetitif. Tapi situasi ini diredam oleh senyuman seorang siswa Sentolo, Teo Domina. Kelas ini adalah kelas yang begitu aneh buatku. Kami tidak seaktraktif KPP.3 dan kami tidak begitu nakal untuk dikenang seperti KPP1, Kami KPP.2. sedang-sedang saja.

Di luar kelas, kehidupanku begitu diwarnai dengan bermacam-macam perasaan. Aku masih begitu labil, liar, dan begitu egois. Aku begitu egois sehingga mempunyai duniaku sendiri untuk sembunyi, aku tahu ini tidak baik bagi perkembangan hubungan dengan sesama teman (arti teman dalam Seminari berarti saudara dekat). Tapi ini nyaman untukku untuk sementara waktu, karena tidak ada pilihan lain harus tetap tinggal di tempat ini. Banyak konflik yang aku ciptakan, hadapi, dan kadang tidak terselesaikan. Konflik dengan beberapa teman sekelas, juga dengan teman seangkatan. Suatu ketika aku dekat dengan Yusup, yang pada akhirnya menjadi sosok penting dalam perkembangan emosiku. Yusup masih begitu minder karena ia berasal dari Sragen.

Ketika itu, aku benar-benar menikmati untuk menjadi no one. Aku begitu menikmati keadaan itu. Sampai-sampai aku berpikir, aku bisa menghadapi segalanya sendirian. Tanpa siapapun juga. Hingga di penghujung waktu MP, aku masih bertahan, kalau aku adalah ksatria yang harus menghadapi masalah ini sendirian. Mencari masalah sendiri, menyelesaikannya dan berpesta sendiri. Itu adalah mottoku dulu. MP adalah suatu pembentukan pikiran. Peng-gojlog-an jiwa dan mental.

Bawil (Basis wilayah) yang berkesan waktu aku di MP adalah bawil 5. Bawil adalah kelompok untuk berbagi cerita dan bekerja. Bawil bisa disamakan dengan keluarga di Seminari. Mereka adalah Adit, Diaz, Teodo, Noventa, Marino, Fajar (Bejo), Riski (Bali). Kami pada akhirnya hanya berlima. Karena yang lainnya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bawil 5 dengan anggota 5 (Adit, Diaz, Teodo, Noventa, Marino).

b.    Medan Madya Satu, Proyek Penghancuran

Musim kemarau satu bulan dapat dihapus dengan hujan satu hari. Bangunan yang dibangun selama setahun dapat dihancurkan dalam waktu beberapa hari. Itu adalah pepatah yang pas dan sesuai untuk dikatakan ketika aku berada dalam jenjang Medan Madya Satu (MM.1). Aku benar-benar hancur pada waktu itu. Setiap jam siesta (tidur siang) aku keluar dari Seminari untuk ber-surfing di Internet. Aku menjadi begitu deviant dan suka melanggar.

Tak banyak yang aku ingat, karena rata-rata dalam sehari aku memang melewatkan semuanya tanpa harus aku ingat detail peristiwanya. Refleksiku bolong beberapa hari (maksudku sebulan lebih). Aku menjadi siswa yang tidak menyadari sebagai seminaris. Tidur dan bangun sesukaku, aku benar-benar hancur. Hingga Romo Handy ‘menampar’ aku dengan teguran keras. Ini kutuliskan pada buku kenangan MU (Medan Utama) 2010.

Aku masuk dalam jajaran Zollopox Crew. Aku adalah siswa kelas XB. Kelas XB dikenal kelas dengan nilai yang paling parah. Kelas XA adalah kelas dengan persaudaraan yang erat, kelas XC dikenal dengan etos kerja yang tinggi, dan XB dikenal dengan kelas party. Kelas kami adalah kelas yang berpesta ria tanpa memperdulikan apa yang terjadi. Itu menurutku. Kami berpesta hingga ‘larut’. Sampai-sampai nilai TPM kami njeblok semua. Jika itu dipakai untuk syarat naik ke kelas XI, maka dari kelas kami yang memenuhi syarat hanya dua orang dari lima belas siswa. Mereka adalah Harry dan Diaz. Itupun dengan nilai yang tidak istimewa karena mepet dengan KKM.

Peristiwa lain terjadi di MM1. Perpecahan dimulai ketika IPS dan IPA mulai terpisah. Teman-teman dan aku mulai men-diskrimi-nasi IPA dan IPS. IPA dikenal sebagai kelas yang intelektual, kaum eksekutif. IPS dikenal sebagai kelas yang santai dan siswanya suka libur panjang setiap hari. Nah, kelas kami dan Medan kami pun terbelah menjadi dua. IPA dan IPS. Tapi itu semua disadarkan dan diredam oleh kata-kata Fr.Deddy, “Kalian bodoh jika membedakan masing-masing personal dengan atribut IPA atau IPS. Ini khan hanya masalah kelas. Apa kalian ingin menghancurkan persaudaraan kalian dengan IPA atau IPS ?”

Akhir MM1 aku lewati dengan surat cinta dari Romo Antonius Gustawan, Sj selaku Rektor Seminari Menengah Mertoyudan. Aku mendapat peringatan, namun syukurlah aku bisa naik kelas. Ada dua penilaian untuk Kenaikan kelas di SMA Seminari yaitu, Raport dan surat keterangan dari Romo Rektor berdasarkan hasil pleno Romo Pamong sebagai pendamping panggilan imamat. Aku sungguh bersyukur bisa melewati semuanya dengan susah payah. Aku benar-benar menyadari, MM1 adalah turning point buatku pribadi. Itu adalah saat terakhir aku malas, berpikir negatif, dan deviant. Sudah cukup bagiku untuk menjadi kurawa. Ini adalah waktunya menjadi pandhawa. Proyek Penghancuran ditutup dengan liburan kenaikan kelas yang berbuah keputusanku menjadi AWAM.

c.    Medan Madya Dua, Everything has just begun one minute ago …

Memasuki Medan Madya Dua, aku telah mempunyai keputusan untuk menjadi Awam. Ini telah kubicarakan sebelumnya dengan kedua orang tuaku. Aku tak ingin mereka kecewa, tetapi hal ini sudah menjadi keputusanku bahwa aku merasa bukan seorang calon imam yang baik selama ini. Dan jalan untuk menjadi imam benar-benar bukan jalanku (walau jalan ini membantuku untuk dewasa atau mendewasakan manusia muda yang ada pada diriku).

Aku bicarakan ini dengan Kepamongan MM2, khususnya Romo Supriya. Beliau mengingatkan mengenai tujuan Seminari, yaitu untuk mendidik calon Imam. Maka dari itu, aku harus sudah siap apabila aku harus meninggalkan almamater Seminari. Aku mengangguk mantap. Aku mencintai pilihanku untuk menjadi awam. Aku mencintai tanpa alasan. Aku hanya merasa dituntun untuk menyusuri jalan ini.

Medan Madya Dua adalah puncak kehidupanku. Aku memperoleh pengakuan yang pantas pada saat aku berada di MM2. Aku mendapatkan keluargaku (angkatan 95 a.k.a Ark.com). Mendapatkan pengakuan akan bakat dan minatku dalam bahasa. Sekolah mempercayai aku untuk mengikuti berbagai lomba. Bahasa Inggris, dan Akuntansi. Khusus untuk Akuntansi, aku masih mengingat bagaimana Bangkit (kakak kelasku) dan Hastra Kurdani (kakak kelasku), berjuang untuk pulang ke Seminari karena lomba baru selesai larut malam. Aku masih mengingat peristiwa itu dengan baik. Aku belajar dari Bangkit dan Hastra banyak hal. Mereka adalah sosok yang memberikan aku contoh bagaimana totalitas dalam lomba dan bagaimana berpasrah pada Tuhan mengenai hasilnya.

Aku patut bersyukur karena telah lolos seleksi karya tulis dalam waktu yang sudah ditetapkan dengan nilai memuaskan, lalu  masuk proses penjilidan karya tulis pada gelombang pertama. Aku, Dion, Surya, Risky, Novi, Adit, dan beberapa teman lainnya. Memang kujadikan karya tulis tersebut sebagai pembuktian diri bahwa aku harus berubah total 1800 dari pandangan para staff waktu masih di MM1. Dan, kurasa aku berhasil merubahnya.

Kisah lain adalah Temu Kolese yang mungkin menjadi perbincangan banyak orang antar Kolese. TeKol 2008, adalah peristiwa yang benar-benar mendewasakan aku hingga sekarang. TeKol adalah Temu Kolese, Sebuah pertemuan untuk mengakrabkan sekolah-sekolah kolese. Sekolah kolese adalah sekolah yang dikelola oleh romo-romo Jesuit. Dalam TeKol, aku belajar untuk mengenal orang dan percaya kepada orang yang baru saja aku kenal. Aku mencoba berkolaborasi dengan lainnya. Aku sempat menuliskan bahwa TeKol menjadikan aku berani untuk berbicara, bercinta, dan berdoa. Temu Kolese membawa warna yang cukup cerah dalam hidupku sewaktu aku di Medan Madya Dua. Medan Madya Dua adalah benar-benar merasakan pembentukan Marino menjadi dewasa.

Aku menjadi Ketua Badan Perwakilan Medan, yang merupakan tonggak sejarah kepengurusan, bahwa BPM adalah Dewan Perwakilan Rakyat-nya Seminari. Aku bangga karena aku ikut serta dalam mengambil dan memikirkan beberapa keputusan. Aku belajar untuk memimpin, entah aku berhasil atau tidak, tetapi bagi aku pribadi ini berhasil.

Medan Madya dua kulalui dengan kepala tegak, meski ada bayangan dikeluarkan dari Seminari karena jalan hidupku, aku bisa tetap berada dalam pilihan ini. Aku adalah awam. Dan itu tetap menjadi pilihan hidupku entah apa yang akan kuhadapi di depan sana. Seorang lelaki sejati tidak boleh mundur dari pilihannya, tidak boleh merubah pilihannya.

d.    Medan Utama, Pematangan dan Siap Mengarungi Samudra

Di Medan Utama, aku mengawali langkahku dengan kebimbangan. Dalam hatiku bertanya, ” Apakah aku masih punya kesempatan hidup di Seminari yang notabene adalah sekolah untuk calon Imam, bukan awam sepertiku. Aku terus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tugas yang diberikan oleh Romo Nano dan Frater Nugie. Aku melewati berbagai masalah yang benar-benar mendewasakan aku.

Aku terkesan dengan Romo Nano yang menunjukku sebagai koordinator untuk Jambore Interfide. Aku merasa hal ini benar-benar kepercayaan dari seorang yang besar (Romo Nano) terhadap diriku yang belum pernah memimpin antar medan. Aku tak membuang kepercayaan yang telah diberikan oleh Romo Nano untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin, tetunya dukungan dari teman-temanku untuk berbuat menjadi lebih baik.

Aku telah mendapatkan sesuatu dari waktu terakhirku di Seminari, yaitu mendapatkan keluarga yang kubutuhkan. Mereka adalah Bawil I.J Kasimo. Mereka adalah pemberani, mereka telah membuktikan kesetiaan pada panggilannya. Mereka itu adalah Alit, Dion, Putra, Conrad, Ndaru, Nico, Lukas, dan Marino. Aku sungguh bersyukur setahun penuh bersama mereka. Bersama mereka aku bisa berproses dan menjadi lebih baik. Mereka saling mempercayai para anggotanya. Kami bukan pecundang, walau kami berbeda dari yang lain. Kami tetap awam, walau yang lain ingin berkata bahwa kami adalah manusia beruntung karena dapat naik kelas.

Aku teringat, ketika Bu Esthi menitikkan air mata. Aku pernah mengatakan bahwa Exact is hypocrite (pelajaran eksak penuh dengan kepalsuan .. munafik). Aku sungguh menyesal, telah membuat hati seorang guru terluka. Aku tahu, aku tak dapat bertahan lagi dan membayangkan jika Bu Esthi adalah ibuku di rumah. Aku adalah orang yang paling durhaka, jika demikian adanya, tapi terimakasih karena beliau telah memaafkan ucapanku tadi.

Aku ingin mengakhiri segalanya dengan elegan. Aku tak ingin menjadi sebuah produk gagal dari Seminari. Aku tahu, aku punya kualitas untuk memberikan yang terbaik. Aku bisa. Aku harus mengakhiri Medan Utama dengan kepala tegak. Keputusan hidup yang telah aku ambil selama di Seminari adalah sebuah point of no return. Aku tidak bisa kembali ke masa dimana aku mempunyai idealisme lagi. Aku sudah harus lebih realis dalam bertindak.

Terimakasih kuucapkan kepada Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan yang telah menerimaku sebagai murid selama empat tahun dengan ijazah SMA ’Seminari’ dan memberikan bekal sehingga dapat menemukan jalan hidupku dalam mengarungi samudra. Aku menemukan banyak orang dalam kehidupanku, membuat diriku lebih baik dari hari kemarin. Dan aku yakin, aku bisa lebih baik lagi. Sadar, Tenang, dan Doa. Itu adalah simpul yang aku dapatkan dari pendidikanku selama ini. It starts from nothing and ends with something. Ketika segalanya memang harus diakhiri (Mertoyudan, 9 Mei 2010)

Panggilan Menjadi Murid Yesus

Panggilan Tuhan senantiasa bersifat tegas, mendesak dan menuntut kesediaan tanpa syarat. Seperti ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama.  Para murid-Nya pun bergegas meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Dia. Dalam perikop Luk. 14:25-33 Yesus berkata kepada para pengikut-Nya: “Jika seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Maksud Tuhan tentu saja bukan supaya kita sungguh membenci ayah, ibu dan kerabat kita, tetapi supaya kehidupan kita semua berporos kepada Kristus. Semua hubungan manusiawi dan harta dunia mendapat proporsi yang sebenarnya. Seluruh hidup kita harus tertuju pada Kristus, yang lain-lainnya hanya berarti dalam hubungan dengan-Nya dan menjadi nomor dua.

Mengapa Yesus memberikan persyaratan yang begitu berat untuk menjadi murid-Nya? Jawabannya jelas. Pertama, Yesus tidak mau para pengikut-Nya setengah-setengah alias setengah hati. Menjadi murid Yesus berarti bersedia menderita dan bangkit bersama Yesus. Syarat yang harus dipenuhi memang sangat berat, karena menuntut nyawa sendiri yang harus dikorbankan.

Kedua, justru menyatakan bahwa Dia satu-satunya pilihan bagi manusia. Memilih Yesus berarti segala-galanya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang mampu menyaingi-Nya. Dengan meninggalkan segala-galanya, tak ada lagi kekuatan dunia yang menghambat. Ia bebas untuk mempersembahkan segala-galanya kepada Allah demi keluhuran Tuhan dan kesejahteraan sesama.

Tuntutan Yesus demikian berat apalagi bila dikaitkan dengan gaya kehidupan manusia modern yang lekat dengan harta dan dipengaruhi pemikiran yang serba instan. Bukankah ini terlalu muluk-muluk? Kalau Tuhan berbicara tentang hubungan keluarga dan harta milik, maka yang pertama-tama Dia minta ialah perubahan mental. Kita mau menjadi manusia yang lebih simpatik, lebih sederhana dalam kata dan perbuatan, lebih mengutamakan mereka yang tidak memiliki apa-apa.

Kita berusaha membuka pintu hati kita selebar-lebarnya untuk orang lain, menyediakan waktu kita untuk mereka yang kurang beruntung hidupnya. Singkatnya, kita mau belajar menerima dan menanggung salib kehidupan dengan menaruh kepercayaan yang utuh akan penyelenggaraan Ilahi, dengan sikap rela dan terbuka, dengan lemah-lembut dan rendah hati.

Mengikuti Yesus di zaman ini mungkin semakin sulit karena terlalu besar tantangan dan risikonya. Pertama, tantangan budaya materialisme, budaya konsumerisme dan hedonisme. Manusia saat ini tidak lagi dihargai karena kepribadian dan komitmennya, tetapi karena apa yang dimilikinya: rumah, mobil, deposito, jabatan, dsb. Semua itu bisa menjadi dewa baru bagi manusia dewasa ini, mengikuti Tuhan seutuh-utuhnya menjadi sulit.

Kedua, tantangan dan risiko yang datang dari mereka yang tidak menghendaki kehadiran kita. Karena mengikuti Yesus, kita sepertinya senantiasa dimusuhi. Barangkali kita merasa terus diancam, diteror, diasingkan dengan pelbagai cara. Situasi ini bisa muncul secara intern maupun ekstern. Singkatnya, risiko senantiasa muncul dalam pencapaian suatu tujuan mulia sekalipun.

Mungkin kita termasuk orang yang bukan murid-Nya. Kita sama sekali tidak perlu malu atau merasa rendah diri mengakui hal itu. Memang Yesus menuntut yang tinggi-tinggi dari kita, hari demi hari, minggu demi minggu. Kita berhadapan dengan seorang guru yang keras, yang menuntut segala sesuatu dari diri kita, tetapi kita juga berhadapan dengan seorang guru yang penuh belaskasihan. Dia menegur Petrus bila perlu, berdoa baginya dan memandang dia dengan penuh cinta setelah dia jatuh dalam dosa. Kita tidak pernah ditinggalkan seorang diri dalam tuntutan ini.

Satu hal yang mungkin ditanyakan Yesus kepada kita pada saat ini ialah: “Setelah Anda mendengar-kan tuntutan-tuntutan ini, apakah Anda mau mengikuti Aku atau mengundurkan diri?” Jawaban terletak pada kita. Sekiranya kita dapat menjawab dengan jujur dan penuh kerendahan hati, Dia akan memegang tangan kita dan berkata kepada kita sebagaimana dahulu Dia berkata kepada para murid yang pertama: “Mari, ikutlah Aku!” Yesus memanggil Petrus bukan karena dia kuat, melainkan karena Dia menguatkannya. Mencintai Yesus berarti “memanggul salib” dan “melepaskan diri dari segala milik kita”. Bila bersedia kendati banyak rintangan, Dia juga menguatkan dan menopang kita dengan rahmat-Nya. Anda mau ditopang?


Kiriman:    Yohanes Marino
Sumber:       Purnawan Kristanto (http://purnawan.web.id)
P. Stefanus Sitohang, OFMCap( http://www.blogspot.com)